Mencoba menulis Resensi 2 (Ranah tiga warna)

masih ingat sosok Baso pada Negeri lima menara? nah di novel ini Baso mengirim surat kepada Alif dan itu menambah semangat Alif untuk terus mengejar mimpi-mimpinya.

Belajar adalah segalanya. ini perintah tuhan, Perintah Rasul, Perintah kemanusiaan. bayangkan wahyu yang pertama adalah iqra. bacalah, itu artinya juga belajar (Baso)

selain kalimat diatas, ada juga ungkapan dari Imam Syafii tentang ilmu dan merantau

orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.Tinggalkan negerimu dan merantauulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti kerabat dan kawan.”

Mimpi Alif

Jangan remehkan sebuah impian. Pesan itulah yang hinggap dalam kisah anak perantauan itu. Mimpi menggapai benua Amerika adalah mimpinya  sejak di Pondok Madani. Nah saya sangat menyukai sosok muda yang optimis dan berani bermimpi. sambil di usahakan tentunya. Alif menemukan sebuah pintu meuju benua amerika bernama beasiswa pertukaran duta muda. nah disinalah Alif memberikan segala kemampuannya. Ini menarik, orang yang ingin maju tentu akan diberikan petunjuk.

Bertubi-tubi cobaan yang dihadapi alif sebelumnya memang menunjukan bahwa usaha saja belum cukup. man jadda wajada. kesabaran adalah hal penting juga. man sabhara zhafira. siap yang bersabar akan beruntung. Bersabar mungkin sangat sulit. bagaimanapun manusia memiliki limit tertentu. nah, di Alquran surat Albaqarah ayat 286 mengatakan bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”  maka tidak mungkin kita diuji kesabaran hingga melampaui. Bersabar adalah bagaimanan kita menjalani proses detik demi detik dalam keadaan tertentu. rasa cemas, kesal dan sedih bercampur aduk. maka kita harus berlatih bersabar seperti apa yang dijalankan Alif.

Akhirnya secercah harpanpun muncul. inilah yang ditunggu-tunggu para pembaca. ranah tiga warna mulai menujukkan warnanya. saat alif diterima menjadi duta muda dan berangkat ke Kanada (benua amerika). saat transit di Yordania dan disambut kedutaan yordania Alif bertemu anak PM. sepertinya dunia dangat sempit. Hal yang sama pernah saya alami ketika saya menginjakkan kaki di yogyakarta. heheheh (bukan luar negeri). eh ternyata bertemu teman-teaman SMP di kampus yang sama.

Cerita tentang Kanada banyak membuka mata saya akan jendela dunia. Di sini dikisahkan selama Alif menjalani sebagai duta muda.  Gambaran suasana memang seperti orang mengalami sesuatu dan diceritakan kembali. Tentaunya cerita tentang kanada menambah wawasan saya. yang paling penting adalah tentang pemerintahan kanada dan referendum. ini sebuah negara Utopia yang benar-benar nyata. bisa nggak ya indonesia seperti itu? sejahtera adil dan makmur. amiin. kita doakan saja ya….

eits… ini yang paling seru dan membuat saya sebagai pembaca juga senyum-senyum sendiri (karena pernah ngalamin juga) . RAISA!  ini pelajaran penting sebenarnya ketika alif mendapatkan rumus tentang wanita yang dia sukai. 2 tahun kemudian dia hanya kalah waktu oleh si Randai. suasana haru dan sendu. Kelam dan sangat mengenaskan. Tapi disinilah lagi-lagi sebuah ujian kesabaran. Bagaimana sebuah cinta gagal terungkapkan. Maka  waktu akan mengambil peran untuk mengikis dikit demi sedikit nama Raisa. sabar ya Lif… spertinya kamu nggak sendiri. memang wanita itu suka badboys, calon menantu baik, pria baik dan lembut nggak laku jaman sekarang. Apalagi seperti saya yang tampang artis korea. heheheh saat nanti akan jadi rebutan. (ini kata buku lho)

yang paling menginspirasi dan membuat saya bisa terjaga semalaman untuk tugas akhir adalah cerita tentang “wisuda”. Ini rencana jangka pendek si Alif. hehe udah kaya negara aja ya pake ada rencana jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Alif menceritakan detik demi detik moment wisuda dimana sang Amak menangis haru. dengan toga dan sepatu kulitnya dan tentunya dengan gelar doktorandus (gelar jaman dulu). ini sungguh membuat bangga rang tua. mungkin suatu saat nanti saya akan merasakan suasana itu, hehe amin,

terakhir saya ingin mengutip bait-bati terakhir tentang catatan si Alif. Siapa tahu saya bisa menjadi penulis juga. meskpiun saya masih balajar untuk bisa membangun alur logika, menceritakan anekdot, paradok retorika dan pemilihan diksi. cuplikan ini sangat bagus untuk dikhayati..

Bagaimanapun tingginya impian, dia tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup sudah digelung oleh nestapa akut. Hanya dengan sungguh-sungguhlah jalan sukses terbuka. tapi hanya dengan sabarlahtakdir itu terkuak menjadi nyata. dan tuhan selalu memilihkan yang terbaik dan paling kita butuhkan. itulah hadiah tuhan buat hati yang kukuh dan bersabar.

Overall, novel ranah tiga warna ini sangat menginpirasi saya. Buat kalian yang sedang dalam taraf pencarian jati diri  ada baiknya membaca trilogi karya Ahmad Fuadi ini. nah Novel ini membuka mata kita tentang lulusan pesantren digontor yang rajin, berilmu dan dapat survive di segala penjuru. Paling penting adalah dalam memegang prinsip hidup.  Pokoknya saya rekomendasi buat kalian baca…  jangan membeli yang bajakan ya…

Tiada gading yang tak retak. Ini pertama kali saya membuat resensi buku. dalam keadaan lelah dan mengantuk pula. semoga bermanfaat.

This entry was posted in Resensi Buku, Film, Novel.... Bookmark the permalink.