Kita Vs Korupsi

mungkin kita sudah bosan membicarakan korupsi di negeri ini. seolah tidak ada habisnya, kasus demi kasus menyeruak di sana sini bak jamur di musim penghujan. ibarat sebuah penyakit korupsi di Indonesia dapat dikatagorikan sebagai penyakit kanker stadium empat. sudah kronis dan mau tidak mau penyakit itu harus segera di amputasi.

hal ini yang mendorong beberapa sineas muda untuk terlibat dalam pemberantasa korupsi. para sineas muda yang dipelopori oleh produser film Abduh Azis bekerja sama dengan KPK, US AID, Transparancy International Indonesia membuat empat film pendek tentang paradigma kehidupan untuk memberi pencerahan baru terhadap perlawanan korupsi.

hari jumat 27 april 2012, di fakultas Hukum UGM.  Panitia Lokal Idea bekerja sama dengan Dema Justicia melakukan pemutaran empat film kita versus korupsi. film tersebut berjudul “Rumah Perkara” karya Emil Heraldi, “Aku Padamu” karya Lasja Susatyo, “Selamat Siang Rissa” Karya Ine Febrianti dan “Psstt… Jangan bilang siapa-siapa!” karya Chairun Nisa.

setelah pemutaran film usai, lalu diadakan sebuah diskusi. yang saya tangkap dari diskusi tersebut yaitu bahwa selama ini pemberantasan korupsi dan penyadaran generasi muda akan pemberantasan korupsi hanya dilakukan dengan metode yang menggurui. sudah banyak buku, ceramah, selogan, seminar dan pelajaran yang sifatnya menggurui tersebut. namun ada satu cara yang dipercaya lebih efektif merubah mindset dan cara pandang kita terhadap korupsi. yakni dengan Film. ya, dengan film.

pertama film merupakan narasi model kehidupan yang berbentuk gambar bergerak sehingga penontonnya bisa dengan bebas memetik nilai yang terkandung di dalamnya.  di dalam narasi tersebut terdapat paradigma kehidupan yang mudah di khayati, tiru, dan dicontoh.

memang sulit karena mindset orang indonesia terhadap korupsi pada umumnya bahwa hukum terkait dengan sanksi. sehingga seseorang mematuhi hukum karena ada sanksi.

kebanyakan koruptor saat ini adalah masih tergolong muda. mereka adalah orang-orang yang dulunya mengenyam pendidikan formal. selidik demi selidik ternyata generasi muda sangat rawan di internalisasi nilai-nilai korupsi. nilai-nilai korupsi muncul di sekolah dan kehidupan sehari-hari. toh, saya mengkui bahwa dulu saat duduk di bangku SMA menyontek adalah hal yang wajar. saya menganggap nilai lebih penting daripada memikirkan proses mendapatkan nilai tersebut. itu juga terjadi terhadap teman-teman di kelas saya. entah, waktu itu memang segala permasalahan peribadi dan kehidupan di jakarta yang sangat membuat stress mengkondisikan sebuah keinginan untuk mendapatkan hasil dengan cara instan.

ini yang berbahya, karena generasi muda sudah dihadapkan pada permasalahan moral dilema. gaya hedonisme, hura-hura, apatis dan sebagainya menyebabkan moral generasi muda terkikis. dalam dunia pendidikan korupsi sudah dianggap normal dan wajar. seperti titip absen, menyontek, mark up buku pelajaran. Nilai tinggi memang perlu tetapi moral tetap harus dijaga. maka dari itu penting, perlu dan sangat urgent untuk menyadarkan akar generasi penerus bahwa korupsi bukan hanya polemik penegak hukum, korupsi bukan politik yang ada di televisi dan koran, korupsi bukan hanya pejabat saja , tetapi korupsi ada pada diri kita. masyarkat kelas palingbawah sampai paling atas, dari pribadi, rumah, pendidikan dan instansi . korupsi ada di sekeliling kita.  perkataan lord acton yakni Power tend to corrupt, and absolut power corrup absolutely, memang benar. tetapi dalam konteks kekinian khususnya di indonseia seseorang tanpa kekuasaan pun dapat melakukan korupsi. korupsi kecil-kecilan tetapi jika dibiarkan sifat tersebut akan terbawa oleh kita  mahasiswa saat setelah memiliki kekuasaan.

mingkinkah Indonesia terbebas dari jerat belenggu korupsi?

absolutely ya.. alasannya yakni pertama, lembaga KPK sangat kuat, kepemimpinan kolektif yang berintegritas dan pengawasan internal dan ekternal masyarakat serta dana operasinal yang besar memuat lembaga independen itu dapat menjalankan amanat secara profesional. kedua banyak LSM seperti ICW, Pukat, TII dan lain sebagainya yang selalu mengawasi jalannya pemerintahan. ketiga semangat perlawanan masyarakat terhadap pemberantasan korupsi.

pembuatan film ini patut diapresiasi. kita memang sudah jenuh terahadap film horor dengan nuansa sex nya. kali ini paara sineas muda mampu melahirkan karya yang berbeda. karya yang tidak terikat pada mekanisme pasar dan keuntungan semata. karya yang tidak mengajarkan kita terhadap hidup hedonisme, karya yang dapat memberi pencerahan dan memberikan pilihan apakah kita dapat melawan korupsi atau jiwa kita dikalahkan oleh sebuah kebohongan.

maka dari itu mulailah dari diri kita sendiri, di sekeliling kita, kita versus korupsi….

This entry was posted in Opini Saya. Bookmark the permalink.